HealthcareUpdate News

Benarkah GERD Bisa Menyebabkan Kematian? Ini Penjelasannya

Perbincangan warganet soal GERD yang disebut bisa memicu kematian diluruskan oleh dokter, yang menegaskan bahwa penyakit asam lambung ini tidak mematikan, namun tetap berisiko bila diabaikan dan disertai komplikasi.

Belakangan ini, media sosial ramai memperbincangkan isu gastroesophageal reflux disease atau GERD, bahkan sebagian netizen mengaitkannya dengan risiko kematian mendadak. Perdebatan ini muncul seiring banyaknya cerita pengalaman penderita GERD yang mengalami keluhan berat, mulai dari nyeri dada hingga sesak napas, yang kerap disalahartikan sebagai gangguan jantung.

Dokter menjelaskan bahwa GERD adalah kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan akibat melemahnya katup antara lambung dan esofagus. Saat kondisi ini terjadi, dinding kerongkongan yang tidak dirancang untuk terpapar asam akan mengalami iritasi. Inilah yang memicu sensasi terbakar di dada atau heartburn, rasa asam di mulut, mual, hingga nyeri ulu hati.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi-hepatologi, dr. Ari Fahrial Syam, menegaskan bahwa GERD bukan penyakit yang secara langsung menyebabkan kematian. Namun, gejalanya memang dapat menimbulkan keluhan yang berat dan membuat penderitanya panik.

“GERD tidak menyebabkan kematian secara langsung. Tetapi keluhannya sering menyerupai penyakit jantung, seperti nyeri dada dan sesak napas, sehingga banyak pasien merasa takut dan mengira mengalami kondisi yang mengancam nyawa,” ujar dr. Ari dalam beberapa kesempatan edukasi kesehatan.

Meski demikian, GERD tidak boleh dianggap sepele. Pada kondisi tertentu, refluks asam yang terjadi terus-menerus dapat memicu komplikasi serius. Iritasi kronis pada kerongkongan dapat menyebabkan luka, penyempitan saluran makan, hingga perubahan sel yang dikenal sebagai Barrett’s esophagus, yang meningkatkan risiko kanker kerongkongan.

Dr. Ari menjelaskan bahwa risiko fatal biasanya muncul bukan karena GERD itu sendiri, melainkan akibat komplikasi atau penyakit penyerta yang tidak terdeteksi. “Pasien dengan GERD bisa saja memiliki penyakit lain, misalnya jantung atau paru. Jika gejalanya disamakan dengan GERD tanpa pemeriksaan lanjutan, ini yang berbahaya,” jelasnya.

Read More  Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Ibu Hamil dan Menyusui

Selain itu, asam lambung yang naik hingga ke saluran pernapasan dapat memicu gangguan napas, batuk kronis, bahkan memperparah asma. Kondisi ini sering terjadi pada GERD yang tidak terkontrol dan berlangsung dalam jangka panjang.

Sejumlah kebiasaan sehari-hari diketahui menjadi pemicu utama GERD. Pola makan tidak teratur, konsumsi makanan berlemak, pedas, dan asam, kebiasaan minum kopi berlebihan, merokok, serta langsung berbaring setelah makan dapat meningkatkan risiko naiknya asam lambung. Stres dan kurang tidur juga memperburuk kerja sistem pencernaan.

Kelebihan berat badan turut memberi tekanan pada perut sehingga mendorong isi lambung naik ke kerongkongan. Karena itu, prevalensi GERD cenderung meningkat seiring gaya hidup modern yang minim aktivitas fisik dan tinggi konsumsi makanan cepat saji.

Dr. Ari menekankan bahwa pengobatan GERD tidak cukup hanya dengan obat penekan asam lambung. Perubahan gaya hidup memegang peran penting dalam pengendalian penyakit ini. “Obat membantu meredakan gejala, tetapi tanpa perbaikan pola makan dan gaya hidup, GERD akan mudah kambuh,” ujarnya.

Ia juga menyarankan masyarakat segera memeriksakan diri bila mengalami nyeri dada hebat, muntah darah, sulit menelan, atau penurunan berat badan tanpa sebab jelas. Gejala tersebut bisa menjadi tanda adanya penyakit lain yang lebih serius.

Kesimpulannya, GERD bukan penyakit mematikan, tetapi dapat menurunkan kualitas hidup dan memicu komplikasi bila dibiarkan. Edukasi yang benar dan kewaspadaan terhadap gejala menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak informasi keliru yang beredar di media sosial.

Back to top button